Jangan anggap remeh kadal. Ramuan binatang melata yang hidup di semak-semak ini mampu mengatasi gangguan pada organ ginjal dan paru-paru penderita asma, batuk, dan tuberkulosis (TBC). Hingga tahun lalu Bun Yuk Koi (67) menderita gangguan batuk. Beragam obat batuk dan antibiotik diasup, tetapi belum juga memberi kesembuhan. Akibat gonta-ganti obat batuk, ia merasa raut wajahnya seperti orang berusia 80 tahun!
Akibat lain, lambat laun rambutnya kian menipis karena mengalami kerontokan. Dari pemeriksaan dokter, gangguan lain yang dialaminya adalah melemahnya fungsi organ ginjal.
Sementara Aa Kim (60), sepanjang tahun 2004 pernah mengalami gangguan asma. Ia mengeluh tak mampu menarik napas dalam-dalam dan setiap pagi selalu bersin-bersin. Aa tak pernah mengeluarkan suara batuk meski merasa ada yang menganjal di saluran napasnya.
Dr. Budi Sugiarto Widjaja, TCM, dokter yang berpraktik di RS Omni Medical Center dan Klinik TCM Beijing, Jakarta, menganjurkan Bun dan Aa mengonsumsi ramuan kadal. Bun diresepkan 3 x 4 kapsul kadal sehari selama 3 minggu, sedangkan untuk Aa 3 x 3 sehari selama sebulan. Hasilnya, mereka terbebas dari gangguan yang diderita.
Bun mengaku, baru dua hari mengonsumsi kapsul kadal, ia mampu mengeluarkan lendir, napasnya pun lega. Pada hari ke-21, ia tak lagi mengeluarkan suara batuk. Sementara Aa merasa kondisinya lebih sehat dan bugar.
Asin dan Netral
Kadal banyak dijumpai di daerah
Dalam teori
Meringankan Kerja Paru
Batuk menurut TCM, didefinisikan sebagai ke sou. Ke berarti banyak suara batuk, tetapi tidak berlendir. Sebaliknya, Sou tidak ada suara, tetapi banyak lendir. Dr. Budi menjelaskan, batuk merupakan refleks otot ketika ada benda asing yang masuk ke dalam saluran pernapasan. Tarikan napas tak mendalam akibat ginjal yang dilambangkan dengan air, tak dapat bekerja sama dengan paru-paru, yang dilambangkan dengan logam.
“Logam kering karena air tak lagi membasahinya. Seakan-akan logam kekurangan kekuatan untuk menarik oksigen. Dengan dikuatkannya ginjal, paru-paru bisa bekerja normal. Ginjal sebenarnya yang menarik oksigen hingga ke dalam organ paru. Dalam hal ini, ginjal meringankan kerja paru-paru,” katanya.
Ramuan bubuk kadal diyakini mampu mengeluarkan lendir, membuat suara batuk tak terdengar lagi, dan tarikan napas semakin panjang. Bubuk kadal juga baik bagi penderita TBC, yang batuknya sudah berkepanjangan.
Dr. Budi menuturkan pengalamannya saat masih berpraktik di RS
Padahal, nikotin dari rokok membuat kerja paru-paru melemah. Kondisi mereka, bisa saja terjadi karena rajin minum arak kuning dengan rendaman kadal.
Ekor Paling Baik
Kadal diyakini mempunyai fungsi yang mirip dengan hormon testosteron. Kadal juga berkhasiat sebagai pereda otot paru-paru yang sedang tegang akibat kurang pasokan oksigen.
Bubuk kadal mampu meningkatkan daya tahan tubuh, menurunkan kadar gula darah, serta berfungsi sebagai antiaging atau antipenuaan. “Menurut penelitian di Cina, kadal mengandung protein, lemak, mineral, dan kalsium,” tutur Dr. Budi.
Bagaimana cara mengolahnya? “Buang seluruh isi organ tubuh beserta sisiknya. Cuci bersih bagian tubuh yang tersisa, lalu dilebarkan. Tubuh yang melebar tersebut ditusuk dengan kayu bambu hingga rata dan tipis. Sesudah siap, panggang hingga kering dengan suhu rendah,” ujarnya.
Setelah kering, daging kadal siap digiling hingga berbentuk bubuk. Selanjutnya bisa dikonsumsi dalam takaran gram atau dimasukkan ke dalam kapsul. Cara lain, 5 ekor kadal panggang dimasukkan ke dalam wadah berisi 5 liter cairan arak kuning. Diamkan selama satu malam, selanjutnya minum tiga kali satu sloki setiap hari.
Dr. Budi mengingatkan, sebelum diolah menjadi obat, hendaknya buang bagian kepala dan ujung kaki kadal karena mengandung racun. Ekor adalah bagian yang paling berkhasiat dibanding bagian tubuh lainnya. Namun, ia tak menjelaskan alasannya.
Untuk mendapatkan khasiat pengobatan, dosis yang dianjurkan 3 kali sehari masing-masing 1-3 gram. Bila dalam bentuk kapsul, minum 3 x 3 sehari. Di Klinik Herbal dan Akupuntur Beijing, Jakarta Barat, 1 gram bubuk kadal Rp 2.000, sedangkan kapsul kadal untuk konsumsi 7 hari, harganya Rp 130.000. (kompas.com)
Kedelai Ganggu Kesuburan Pria
Hati-hati jika Anda (kaum pria) sering mengonsumsi makanan yang berbahan baku kedelai. Pasalnya bahan kimia yang terdapat pada kedelai, tofu, dan kacang polong berpotensi untuk menghancurkan sperma sehingga mengganggu kesuburan pria.
Para peneliti dari King College, Inggris menjelaskan bahwa kedelai mengandung genistein yang efeknya menyerupai hormon estrogen pada wanita. Hasil itu diperoleh dari penelitian pada sperma tikus, yang menjelaskan juga bahwa hal tersebut berakibat yang sama bagi sperma manusia.
Pada tes di laboratorium, ditemukan genistein dalam jumlah yang kecil sudah dapat mematikan sperma manusia. Sperma manusia ternyata lebih responsif terhadap genistein dibandingkan sperma tikus. Selain itu, bila wanita mengonsumsi kedelai atau makanan yang mengandung genistein tinggi, kemungkinan mereka memiliki dampak yang lebih besar dibandingkan pria karena zat kimia tersebut mempengaruhi sperma yang sudah ada di tubuh wanita ketika sperma sedang membuahi sel telur.
Dari hasil penelitian itu, maka dianjurkan bagi penggemar kedelai untuk membatasi konsumsinya beberapa hari selama masa ovulasi. Namun, meskipun selama ini tradisi orang Asia kebanyakan mengonsumsi makanan kedelai, mereka tidak pernah menunjukkan adanya gangguan pada fertilitas.
Pria Rentan Terhadap Testosteron Rendah
Survei menunjukkan bahwa pria dengan kadar testosteron rendah di tubuhnya setelah usia 40 tahun memiliki risiko kematian yang lebih besar dibandingkan pria yang memiliki kadar testosteron normal. Meskipun hubungan timbal balik antara keduanya belum pasti, namun para peneliti meyakini adanya kemungkinan faktor ketiga yang menghubungkan keduanya.
Kadar testosteron setiap pria memang berbeda-beda dan berubah-ubah sesuai dengan kondisi tubuhnya, misalnya ketika sakit atau stres mungkin kadarnya akan menurun. Selain itu, hasil penelitian juga memperlihatkan bahwa produksi hormon seksual pria ini menurun seiring dengan bertambahnya umur.
Produksi testosteron di tubuh pria mencapai puncaknya pada usia 20 tahunan dan rata-rata menurun sekitar 1.5% setiap tahun setelah mereka memasuki usia 30 tahun. Penurunan tersebut disebabkan oleh perubahan fisik testis dan otak sebagai organ utama yang mengatur produksi hormon testosteron.
Kadar testosteron yang terlalu rendah dapat menyebabkan degradasi massa otot dan kerapuhan tulang, resistansi insulin, penurunan libido, badan lemah, mudah tersinggung, dan depresi. Meskipun demikian, libido yang rendah bukan berarti kadar testosteron juga rendah karena dorongan seksual dipengaruhi oleh banyak faktor tubuh dan pikiran. Rendahnya kadar testosteron diduga mungkin juga meningkatkan risiko kematian pada pria.
Para peneliti mempelajari kaitan antara kadar testosteron dan kematian pada 858 pria yang berumur 40 tahun atau lebih. Data kadar testosteron masing-masing tercatat minimal dua kali pada tahun 1994 dan 1999. Pria-pria tersebut diamati selama delapan tahun hingga tahun 2002.
Di antara mereka, 19% atau sekitar 166 pria memiliki kadar testosteron yang rendah, 28% atau 240 pria sedang, dan 53% atau 452 pria memiliki kadar testosteron yang normal. Dalam kurun waktu tersebut, sekitar 20% di antara pria dengan kadar testosteron normal meninggal dunia. Pada pria dengan kadar testosteron yang sedang, 24.6% nya juga meninggal dunia. Sedangkan pada pria dengan kadar testosteron yang rendah, 34.9% nya meninggal dunia.
Pria dengan kadar testosteron yang rendah memiliki risiko meninggal dunia sekitar 88% lebih besar dibandingkan pria yang memiliki kadar testosteron normal. Pengaruhnya tetap berlaku meskipun faktor usia, penyakit, dan indeks massa tubuh ikut dipertimbangkan.
Risiko kematian pria dengan kadar testosteron rendah menjadi 68% setelah para peneliti menganalisa ulang data dengan mengabaikan pria yang meninggal pada tahun pertama. Hal tersebut menunjukkan bahwa risiko kematian tidak terlalu dipengaruhi oleh penyakit dan hubungannya antara kadar testosteron rendah dengan kematian tetap tinggi.
Rokok Tingkatkan Impotensi!
Jauhi rokok sekarang juga! Penelitian terbaru menunjukkan bahwa merokok dapat meningkatkan risiko terjadinya impotemsi. Pria yang merokok memiliki kecenderungan 40% terkena impotensi dibandingkan mereka yang bukan perokok. Penelitian tersebut telah dilakukan oleh para peneliti di
Diketahui bahwa semakin banyak rokok yang diisap atau dikonsumsi, maka akan semakin besar pula risiko terjadinya gangguan seksual pada pria. Namun demikian, pria yang menghisap kurang dari 20 rokok setiap harinya juga memiliki risiko 24% untuk terkena impotensi. Keadaan itu tidak hanya menyerang pria yang sudah tua saja, anak mudapun juga bisa mengalaminya.
Penelitian tersebut telah dimuat dalam Journal Tobacco Control, yang didasarkan pada survey terhadap 8.000 pria di
Rokok mungkin menjadi simbol dari kejantanan seorang pria hingga saat ini dan kebiasaan tersebut memang cukup sulit untuk dihentikan. Namun, pada kenyataanya rokok adalah penyebab utama terjadinya impotensi dan juga indikator terjadinya penyakit jantung koroner.
Banyak penelitian juga menunjukkan bahwa merokok sangat mempengaruhi usia hidup seseorang. Merokok dapat meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung dan stroke, gangguan pernafasan,kangker paru-paru, dan juga jenis kanker lainnya. Oleh sebab itu, jika seorang pria ingin terhindar dari gangguan impotensi, maka tidak ada salahnya mereka menghentikan kebiasaan merokok sekarang juga.